Posts

Kata Kata Mutiara Cinta

Untuk apa memajang foto kita berdua? Cita-citaku ingin fotomu ada di buku nikahku. Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangannya. Takan mulia kau menunggu permintaan maaf. Takan hina kau meminta maaf terlebih dahulu. Aku ingin kau rindukan, aku ingin kau kejar, aku ingin kau buatkan puisi. Lalu, aku akan bertingkah tak peduli, agar kau tahu rasanya jadi aku. Beberapa orang berhenti menyapa bukan karena perasaannya berhenti, melainkan karena telah mencapai titik kesadaran untuk berhenti disakiti. Jika tidak bisa menghapus seseorang dari ingatanmu, mungkin memang ia digariskan untuk ada disana. Sudahlah, manusia akan melupa pada saatnya. Ketika kesetiaan menjadi barang mahal. Ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucap. Ego siapa yang sedang kita beri makan? Tidak ada yang abadi, baik bahagia maupun luka. Suatu saat kita akan tiba di titik menertawakan rasa yang dulu sakit, atau menangisi rasa yang dulu i...

Puisi cinta kenangan

Ingatkah ketika hujan lebat dimalam panjang itu Udara yang dingin dan derasnya angin yang bertiup Ukiran namamu dan aku tergores di rumah pohon itu Menceritakan kisah tentangmu dan tentangku yang begitu romantis Meski kini kamu telah jauh disana yang tak lagi disisiku Malam ini, seolah kau berada tepat disampingku Memutar waktu dan kenangan yang tak mungkin aku lupakan Bersamamu aku bahagia Akankah kau merasakan hal yang kurasakan saat ini sayang Kepergianmu meninggalkan sepercik ingatan yang tak mampu kulupakan Meski kehadiranmu itu sesaat Bayanganmu masih terlintas dan tetap tinggal dalam kehidupanku. Karya : Arif

puisi cinta

Diufuk senja aku terdiam Dipinggir pantai duduk menatap senja Terpesonaku akan keindahannya Oleh warna dan cahaya itu Mengingatkan orang yang aku impikan semalam Yang telah menciptakan sebuah rindu Kerinduan yang tak kuasa untuk aku tahan Padanya yang menemani mimpiku semalam Mungkinkah aku jatuh cinta? Pada dia yang mempesona Berdegup jantungku jika membayangkan wajahnya Seolah aku tak ingin kehilangannya Karya : Arif

puisi isa

Puisi Isa ( Chairil Anwar)  12 November 1943 kepada nasrani sejati Itu Tubuh mengucur darah, mengucur darah Rubuh, patah mendampar Tanya: aku salah? kulihat Tubuh mengucur darah aku berkaca dalam darah terbayang terang di mata masa bertukar rupa ini segara mengatup luka aku bersuka Itu Tubuh mengucur darah, mengucur darah

Puisi awan

Bertebaran di angkasa Putih, kelabu, dan hitam Warna – warna menawan Bergelombang mengombak-ombak Tebal dan sangat indah Bahkan sang bagaskara tak terlihat Pelangi terlihat tak penuh Karna sang selimut menutupinya Jauh disana Menyelimuti jagat raya Tebal tipis Beredar dimana-mana Indah bukan buatan Ingin rasanya memeluknya Lembut dan menawan Indah tak terperikan